Inspirasi

Media Sosial Ibarat Ruang Seminar Pribadi

on
May 18, 2020

Media Sosial Ibarat Ruang Seminar Pribadi – Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sebelumnya kita membahas lebih mendalam, kita ketahui dulu teorinya nih, apa sih itu sosial media? Jadi temen-temen, sosial media adalah sebuah media untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Nah jadi sosial media ini tidak ada batasan ruang maksudnya tidak ada skat seperti ruangan, luas seluas luasnya, sepanjang quota internet kita masih ada. Begitu juga dengan waktu, tidak ada batasan waktu, meskipun kita tengah malam kita mau update status pun bisa, asal ada yang masih bangun.

Nah media sosial ini juga terbagi dalam beberapa kategori lho, yaitu Social Networks untuk berinteraksi, seperti Facebook, Instagram, Twitter, lalu ada Discuss Social Media seperti Zoom, Google Meet Up, lalu ada lagi Sharing Social Media yang menfasilitasi kita untuk saling berbagi file, video, music, dll seperti Google Drive, Youtube, Slideshare, lalu masih banyak lagi yang lainnya.

Teman-teman yang in syaa Allah berbahagia walau masih berstatus jomblowan dan jomblowati, sosial media memiliki dampak besar pada kehidupan kita saat ini. Seseorang yang asalnya “kecil” bisa seketika menjadi besar dengan media sosial, begitupun sebaliknya orang “besar” dalam sedetik bisa menjadi “kecil” dengan media sosial. Betul atau betul? Sekarang banyak sekali kan contoh the power of social media, misalnya ada orang yang di bully di media sosial, kemudian diposting videonya, tiba-tiba orang yang membully besoknya di tangkap kan? Itu salah satu contoh the power of social media, yang menandakan media sosial ini sangatlah berpengaruh bagi kehidupan kita sekarang.

Teman-teman, media sosial menambahkan kamus baru dalam pembendaharaan kita yakni selain mengenal dunia nyata kita juga sekarang mengenal “dunia maya”. Dunia bebas tanpa batasan yang berisi orang-orang dari dunia nyata. Setiap orang bisa jadi apapun dan siapapun di dunia maya. Seseorang bisa menjadi sangat berbeda kehidupannya antara didunia nyata dengan dunia maya, hal ini terlihat terutama dalam jejaring sosial.

Kita mulai masuk dalam konteks kebermanfaatan dengan media sosial. Jadi, media sosial ini ibaratkan sebuah ruangan seminar tanpa ada batas ruang dan waktu, yang di mana akun media sosial kita merupakan pengisi atau pemateri dari seminarnya. Lalu materi apa yang akan kita sampaikan dalam seminar tersebut adalah sesuai dengan kemampuan, hobi, atau fokus jurusan kita. Sampai sini sudah paham ya? Sekali lagi, media sosial ini bagaikan ruang seminar dan kitalah pengisi seminarnya.

Ilustrasi media sosial ibaratkan seminar
Ilustrasi media sosial ibaratkan seminar

Lalu di seminar tersebut tentunya ada para peserta kan ya? Nah peserta itu tadi ibaratkan follower, atau teman yang ada di akun media sosial kita. Semakin banyak kita memiliki teman di media sosial, maka semakin banyak orang yang mendengarkan materi yang kita sampaikan, betul atau betul? Tetapi perlu digaris bawahi juga bahwa tak semua teman kita di media sosial itu akan mendengarkan atau membaca postingan kita secara full ya? Ada yang cuma sekali lewat, liat lalu scroll ke yang lain, ada yang memang benar-benar membaca caption sampai habis, begitu juga di seminar, ada yang ngantuk, ada yang fokus main HP.

So teman-teman, sejauh mana manfaat kita dalam seminar yang kita ibaratkan akun media sosial tadi itu tergantung pada apa yang kita sampaikan, this is the point. Saya ingin bertanya pada teman-teman sekalian, apa sih yang kamu bagikan di media sosialmu? Hanya foto-foto pribadi? Foto keluarga? Foto istri atau suami kalo yang sudah berkeluarga ya, itu tidak apa-apa, tetapi itu standar, atau itu biasa saja, yang memang fungsi media sosial adalah itu ketika Mark Zuckerberg membuat Facebook. But, you are will be special when your post on social media is meaning full. Kamu akan menjadi spesial dan anti mainstream ketika kamu memposting hal yang bermanfaat di media sosial.

Foto pribadi, foto keluarga yang kamu upload di media sosial itu hanya bermanfaat bagi dirimu sendiri, hanya sekedar sebatas memuaskan hasrat pada diri untuk upload kan? Coba kita merujuk pada sebuah hadist dan firman Allah ta’ala,

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“…dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah:195).

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7).

Allah dan Rasulnya menyuruh kita untuk menjadi pribadi yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, tapi apa hubungannya dengan media sosial? Lho tentu dengan berkembangnya teknologi saat ini, media sosial menjadi ladang pahala bagi kita untuk memanen pahala dari Allah. But how? Ibarat seminar tadi, kalo kita membagikan ilmu yang kita miliki di media sosial, apakah kita mendapat pahala karena itu? Tentu saja iya kan?

Nah, akun media sosialmu merupakan seminar yang kamu miliki secara pribadi, kamu panitia dari seminar itu yang bertugas mengumpulkan teman agar mereka mendegarkan apa yang kamu sampaikan. Apapun itu yang menjadi passionmu, kamu suka teknologi? Bagikan tentang informasi atau tutorial computer, kamu suka fotography? Bagikan tentang tips fotografi, dan yang paling tinggi tingkatannya adalah ketika kamu berbagi tentang ilmu agama. Nah di sini harus diperhatikan bahwa kita tidak harus menjadi ustadz terlebih dahulu untuk membagikan ilmu agama, karena merupakan sudah tugas kita untuk berkontribusi dalam dakwah ini.

Ilmu agama yang seperti apa yang bisa diposting? Bisa berupa nasihat-nasihat ustadz yang pernah kamu baca atau dengar, bisa berupa kata-kata motivasi dalam hijrah, atau kalau kita bisa membuat video-video singkat tentang nasihat its ok.

So teman-teman, ketika kita membagikan suatu hal yang bermanfaat di media sosial, lalu ada yang membaca kemudian mempraktekkannya di kehidupan sehari-harinya, maka in syaa Allah selama ia melakukan itu maka kita mendapatkan pahala darinya tanpa mengurangi pahala dia sedikit pun. Eits! Dengan catatan bahwa yang kita bagikan itu adalah hal yang bermanfaat atau kebaikan, lho kalau sebaliknya yang kita bagikan itu adalah konten tak ada manfaat misalnya berbau provokasi, orang yang terbuka auratnya, atau konten yang berisi kata-kata kotor atau maaf vulgar, lalu ada yang melihat atau mempraktekkan, kita otomatis di situ mendapatkan dosa unlimited yang terus mengalir sampai postingan tersebut itu hilang.

Its okay konten negatif bisa kita hapus dari media sosial kita, tetapi kalau ada yang ng-save dan juga menyebarkan bagaimana? Lho repot dosanya juga kebagi ke kita sedangkan kita sudah hapus itu di akun pribadi kita. Ngeri banget kan?

Maka dari itu sebelum posting di media sosial, kita mikir dulu nih… Kira-kira yang kita bagikan ini bermanfaat tidak ya? Sekiranya bermanfaat, maka jangan ragu untuk mempostingnya, jangan berpikiran ah kalo aku dikira sok suci atau sok ustadz gimana ya? Lho! Itu was was syaitan, dan memang syaitan itu tidak suka sama orang yang menyebarkan kebaikan. Dan sekiranya yang akan kita bagikan itu tidak ada manfaatnya, barulah kita urungkan niat untuk posting.

Bagaimana cara mengukur manfaat atau tidaknya postingan kita? Simple guys, tanya pada diri sendiri, yang kamu bagikan itu bermanfaat bagi dirimu sendiri dulu atau tidak sih? Hatimu akan menjawab.

Oh ya, saya ingin bertanya pada teman-teman, menurut teman-teman, media sosial itu jahat ngga sih? Contohnya, Tiktok, apa yang teman-teman pikirkan ketika mendengar kata Tiktok? Joget-joget? Alay? Video slow motion? Bocah? Ya mungkin saja benar… Tetapi jahat atau tidaknya media sosial itu tergantung user atau pengguna dari media sosialnya itu. Lho, media sosial itu ngga pernah salah lho, yang salah itu kitalah sebagai penggunanya. Mungkin Tiktok sekarang dicap alay dan tak bermanfaat oleh sebagian orang, tetapi ketika kita membuka sisi positifnya, di sana ada mereka para user yang masih memanfaatkan media sosial dengan jalan yang lurus hahaha. Oh ya, saya di sini ngga di-endorse Tiktok lalu mempromosikannya ya. Hahaha.

Media sosial itu tidak jahat, tetapi usernya yang bisa membuat pandangan platformnya menjadi jahat atau baik. Saya ada liat video di Tiktok yang bermanfaat bagi para usernya, seorang anak muda yang berdakwah menggunakan platform Tiktok yang dibawakan dengan gaya kekinian, dan menurut saya dia adalah orang yang pertama kali berdakwah menggunakan platform Tiktok.

Akun Instagram @bisamandarin

Hehehe, jangan berpikiran kenapa kok saya download aplikasi Tiktok ya. Sebab saya juga ada akun belajar Bahasa Mandarin Online, awal mula saya bikin akunnya di Instagram dengan username @bisamandarin, setelah itu saya langsung ditawari oleh orang Tiktok untuk juga buka akun di sana dan menjadi Tiktok Content Creator, dan alhamdulillah beberapa Minggu lalu saya juga ditawari oleh orang Likee untuk jadi Likee Education Content Creator.

Akun @bisamandarin di Tiktok

So teman-teman, dari sini saya ingin memberikan semangat kepada teman-teman untuk ayolah kita bermanfaat sesuai dengan passion kita. Lho, kalo sekedar untuk membagikan hal yang bermanfaat di media sosial tidak harus punya tenaga ekstra kan? Cukup dengan berbaring juga sudah bisa klik tombol share video-video kajian misalnya.

Luruskan niat, kita bukan mencari popularitas dengan menjadi pribadi yang bermanfaat di media sosial, tetapi yang kita cari adalah pahala dari Allah atas apa yang kita bagikan tersebut. Kalau kita hanya mencari popularitas, kita akan stress apabila melihat jumlah like, views, atau comment sedikit, dan itu hanya menyusahkan saja.

Nikmati saja, jadikan hal kebaikan atau nasihat yang diposting pada media sosial itu sebagai pengingat bagi diri. Bagaikan paku yang apabila dipukul dengan palu berkali-kali, paku itu akan semakin menancap dan sulit dicabut. Begitu juga dengan sebuah ilmu yang kita posting di banyak media sosial yang kita miliki, mungkin orang lain hanya akan membacanya sekali, tetapi kita bisa membacanya lebih dari 2 kali.

Kesimpulannya, media sosial ini ibarat ruang seminar milik pribadi, kita yang sebagai panitia dan kita sebagai pemateri.

Sampaikanlah materi yang baik, yang bermanfaat. Maksimalkanlah ladang pahala ini. Mungkin mereka para creator Facebook, Instagram, Twitter, tidak sampai berpikir sampai ke sini, hanya sebatas sebagai platform komunikasi, tetapi kita sebagai orang Islam khususnya, harus think out of the box, harus beda dari yang lain dan lebih jauh pemikirannya ke depan.

Silakan teman-teman tentukan passionnya, jangan lupa tag saya apabila teman-teman mengupload hal bermanfaat di media sosial, mungkin saya juga bisa mendapatkan inspirasi dari teman-teman semuanya.

Jazakumullahu khairan, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

TAGS

LEAVE A COMMENT

Adam Suchi Hafizullah
Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan

Seorang pemuda yang berasal dari kota kecil Muara Enim sedang bergelut di bidang teknologi informasi untuk keluarga kecilnya kelak.

FIND ME ON