Journey

Pengalaman Perkuliahan di Tiongkok

on
October 2, 2019

Pengalaman Perkuliahan di Tiongkok – Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Alhamdulillah setelah kita bercerita tentang perjalanan kuliah ke Tiongkok yang sampai bagian ke 4 sebelumnya, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman pribadi saya tentang perkuliahan di Tiongkok kepada teman-teman pembaca yang semoga Allah rahmati.

Tanggal 12 Oktober 2015 merupakan hari pertama saya tiba di negeri tirai bambu, setiba di kampus kami dipersilahkan untuk beres-beres koper dan membersihkan kamar baru di asrama. Saya berkuliah di kampus yang bernama Wuxi Institute of Technology atau WXIT, dengan jenjang pendidikan Diploma III jurusan Software Technology.

Saat tiba di kampus saya langsung melihat perpustakaan besar yang menyapa, dan faktanya ternyata mayoritas kampus di Tiongkok itu mempunyai perpustakaan yang besar, tepat setelah masuk gerbang utama kampusnya.

Lama kuliah saya di Tiongkok untuk jenjang D3 adalah 3 tahun. Tahun pertama atau semester 1 – 2 full belajar bahasa Mandarin, karena untuk jenjang D3 di Tiongkok harus belajar bahasa Mandarin agar bisa mengikuti kelas selanjutnya, kecuali untuk jenjang S1 biasanya ada dua pilihan bahasa yang bisa dipilih, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Mandarin.

 Kondisi kelas saat belajar bahasa Mandarin. Lihatlah bahwa proses belajar di sana menggunakan kapur dengan papan tulis berwarna hijau
Kondisi kelas saat belajar bahasa Mandarin. Lihatlah bahwa proses belajar di sana menggunakan kapur dengan papan tulis berwarna hijau

Ya, tahun pertama benar-benar full setiap hari dari pukul 08.00 s.d. 12.00 belajar bahasa Mandarin, kecuali kalau ada jam tambahan, biasanya kami pulang kuliah pukul 14.00. Ketika awal-awal proses pembelajaran di kelas, dosen saya masih menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar untuk mengajar, tetapi setelah berjalan waktu sekitar 2-3 bulan maka dosen pun perlahan mulai mengajar menggunakan bahasa Mandarin.

Kenapa harus belajar bahasa Mandarin lagi? Seperti yang saya katakan tadi, bahwa jenjang D3 harus bisa bahasa Mandarin agar bisa mengikuti kelas di semester selanjutnya. Tetapi sebelum 1 tahun pertama berakhir, saya dan mahasiswa lainnya harus mengikuti ujian Hanyu Shuiping Kaoshi atau singkatannya adalah HSK. Ujian ini merupakan ujian skill bahasa Mandarin, sama seperti TOEFL atau IELTS dalam bahasa Inggris.

https://img6.thatsmandarin.com/wp-content/uploads/2017/03/hsk-test-score.jpg
Gambaran sertifikat ujian HSK

Ujian HSK memiliki 6 tingkatan, sedangkan untuk jenjang D3 harus lulus HSK tingkat 4, dan untuk jenjang S1 biasanya harus lulus HSK tingkat 5. Untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang ujian HSK, teman-teman bisa baca artikelnya pada link berikut ini: https://bisa-mandarin.com/2018/02/penjelasan-lengkap-tentang-ujian-standar-bahasa-mandarin-atau-hsk.html

Setelah lulus dari ujian HSK, kita diizinkan oleh pihak kampus untuk melanjutkan ke semester 3 untuk memulai belajar materi jurusan yang dipilih. Lalu bagaimana kalau kita tidak lulus ujian HSK? Pertanyaan yang bagus sekali, apabila kita tidak lulus ujian HSK maka ada sebagian kampus mengharuskan mahasiswa tersebut lulus terlebih dahulu, dan dia harus mengulang pelajaran bahasa Mandarin dari awal. Serem ngga sih? Hahaha. Tetapi Alhamdulillah kampus saya memiliki kebijakan tak se-serem itu, apabila kita belum berhasil dalam ujian HSK, kampus memberikan keringanan untuk tetap boleh melanjutkan ke semester selanjutnya, dengan catatan selama ia kuliah, ia harus lulus ujian HSK tingkat 4 tadi, dan ujiannya boleh diambil kapan saja sebelum wisuda.

Oh ya, tentang bagaimana culture proses belajar di kelas, semua dosen saya benar-benar menggunakan bahasa Mandarin untuk mengajar, karena saya satu kelas dengan mahasiswa asli Tiongkok itu sendiri. Dosen pun tak memandang apakah ada mahasiswa internasional di kelasnya atau tidak, hingga mau tak mau saya harus mengikuti proses belajar di kelas. Alhasil, terkadang saya dan mahasiswa internasional lainnya cukup kesulitan untuk memahami pembelajaran di kelas, hingga mengharuskan kami untuk review sendiri pelajaran tadi di asramaatau bertanya ke dosen atau teman sekelas sepulang kuliah.

Tetapi jujur, mahasiswa internasional di Tiongkok itu cukup diberi kemudahan oleh dosen yang ada di kampus, mulai dari ujian, tugas, revisi skripsi, dsb. Mungkin karena dosen memahami bahwa mahasiswa internasional ada yang memiliki kendala pada bahasa Mandarin. Asalkan kita rajin ke kelas, tidak bolos, selalu menjaga sopan santun, insya Allah kuliah pun akan lancar sampai selesai.

Sesekali saya mengikuti kegiatan organisasi di kampus. Coba tebak, yang manakah saya?
Sesekali saya mengikuti kegiatan organisasi di kampus. Coba tebak, yang manakah saya?

Tentang organisasi yang ada di kampus itu tak se-aktif seperti di Indonesia, yang kalau di Indonesia banyak sekali macam organisasi, tetapi di kampus Tiongkok tak sebanyak itu, hingga saya merasa kuliah saya terlalu flat. Untuk mengatasinya, saya aktif mengikuti organisasi mahasiswa Indonesia yang ada di Tiongkok, yang bernama PPIT (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok), insya Allah kita akan membuat artikel khusus tentang PPIT ini ya.

Perkuliahan di Tiongkok
Ketika kami diajak masak dan makan bareng di apartemen salah satu dosen

Dosen-dosen di sana baik-baik banget kok, terkadang kami sering diajak makan ke tempat tinggal dosen, atau sekedar ditraktir makan di restoran. Tentunya kami memilih makanan yang halal ya teman-teman, hehehe. Salah satu hal yang membuat dosen Tiongkok itu terkesima dan merasa dihormati adalah culture atau budaya cium tangan ke yang lebih tua oleh mahasiswa Indonesia. Saya dan teman-teman di sana juga menerapkan budaya ini, hingga dosen-dosen di sana sangat respect terhadap mahasiswa Indonesia. Ya, walaupun mereka kadang bingung sih hahaha.

Tahukah kamu teman-teman? Di lingkungan kampus, baik dosen atau rektor itu statusnya sama di mata mahasiswa asli Tiongkok. Ya, maksudnya kalau ada dosen atau rektor lewat di depan mata, mereka cuek… Bersikap biasa, dan melanjutkan jalan begitu saja. Berbeda dengan budaya kita Indonesia, minimal kita menegur dosen tersebut atau bahkan salim cium tangan kan?

Faktanya, walaupun mahasiswa atau masyarakat asli sana agak bersikap cuek, tetapi mereka sangat menghargai waktu. Hingga saya bisa katakan bahwa senakal-nakal mahasiswa di sana, tetapi mereka tetap tepat waktu datang ke kelas, dan sangat menepati janji. Hal ini bisa kita ambil pembelajarannya, yang terkadang kita masih suka menyia-nyiakan dan menyepelekan waktu ataupun janji.

Selanjutnya tentang title atau gelar yang didapat setelah selesai kuliah, tidak ada pada jenjang D3, berbeda dengan seperti di Indonesia yang biasanya gelar jenjang D3 adalah Amd. Kecuali kalau S1 di Tiongkok, barulah mendapatkan gelar apabila telah menyelesaikan kuliahnya. Seperti saya setelah lulus D3, tidak ada gelar yang tertulis pada ijazah saya, dan hanya tercantum nama saja.

Baiklah, mungkin sampai di sini teman-teman tentang pengalaman perkuliahan di Tiongkok menurut pengalaman pribadi saya sendiri. Kesimpulannya adalah apabila ingin kuliah ke Tiongkok, maka harus fokus dan serius dalam belajar bahasa Mandarin terlebih dahulu, agar tidak kesusahan ketika belajar di kelas nantinya. Serta, jadilah orang yang menepati waktu, janji, dan tetap menjaga norma-norma kesopanan.

Oh ya, apabila teman-teman ada pertanyaan seputar perkuliahan di Tiongkok, silakan tuliskan pertanyaannya pada kolom komentar di bawah ini ya.

Terima kasih, sampai jumpa di artikel selanjutnya. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT

Adam Suchi Hafizullah
Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan

Seorang pemuda yang berasal dari kota kecil Muara Enim sedang bergelut di bidang teknologi informasi untuk keluarga kecilnya.