Journey

Perjalanan Kuliah ke Tiongkok Bagian 3

on
September 30, 2019

Perjalanan Kuliah ke Tiongkok Bagian 3 – Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Melanjutkan perjalanan kuliah ke Tiongkok bagian 2 sebelumnya. Sembari menunggu pengumuman di pagi harinya, yang entah tak diketahui jam berapa tepatnya, sayapun selalu me-refresh browser yang sudah standby sejak malam. Akhirnya waktu sholat subuhpun tiba, hanya mampu berdo’a dan berharap kepada Allah untuk hasil yang terbaik.

alm. BJ. Habibie salah satu inspirasi saya

Sejak kecil, saya terinspirasi dengan bapak alm. BJ. Habibie yang menempuh kuliah ke luar negeri, tepatnya ke negara Jerman. Sejak itulah saya bercita-cita ingin kuliah ke luar negeri, khususnya di negara benua Eropa. Kegigihan dan ketekunan beliau dalam mendalami ilmu yang dibidanginya, menjadikan saya lebih termotivasi lagi bisa seperti beliau bahkan lebih.

Mulai dari ba’da subuh, sampai jam 7 pagi… Tak bosan-bosannya saya me-refresh halaman web pengumuman itu. Dan akhirnya! Tak lama kemudian muncullah artikel yang berjudul “Daftar Nama 20 Siswa-Siswi SMKN Yang Lulus Seleksi Program Beasiswa Kuliah ke China”.

Jeng jeng jeng!!! Sayapun langsung mengklik judulnya dengan diiringi tingkat penasaran yang tinggi, kemudian saya menyimak satu persatu nama dari nomor pertama. Di atas saya menemukan nama teman baru yang saya kenal saat seleksi kemarin, dan pada akhirnya di sana juga tertulis nama Adam Suchi Hafizullah dari SMKN 1 Muara Enim! Tak lama merenung, saya pun langsung turun dari atas kasur untuk sujud syukur kepada Allah.

Alhamdulillah… Akhirnya langkah pertama untuk menggapai cita-cita pun terbuka, saya langsung screeshot halaman webnya, lalu mengirimkannya ke orang tua. Orang tua pun ikut bangga saat itu.

Tetapi…

Ada tapinya temen-temen. Sangking bahagianya, saya baru ingat bahwa saya baru saja menjadi mahasiswa STMIK MDP, yang masuk ke kelas cuma 3 hari. Sayapun mikir keras dan berada di antara dua pilihan, antara lanjut kuliah S1 di STMIK MDP atau D3 di Tiongkok. Keputusanpun harus cepat saya ambil, karena pada pengumuman kelulusan seleksi itu tertulis 2 hari setelah pengumuman harus berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Training Pembekalan Bahasa Mandarin di lembaga yang bernama Seamolec.

Setelah dipikir-pikir, minta saran sana sini, berdo’a, dan pertimbangan orang tua, akhirnya diputuskan untuk mengambil beasiswa kuliah D3 di Tiongkok itu. Keesokan harinya, Ibu saya datang ke Palembang untuk membantu saya packing baju demi persiapan mengikuti Training bahasa Mandarin di Jakarta. Karena persiapannya mendadak, sayapun meminjam koper teman kos-kosan saya yang juga kuliah di MDP saat itu.

Akhirnya hari keberangkatan ke Jakarta pun tiba (19 September 2014), orang tua saya mengantarkan saya ke bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, begitu juga orang tua dari siswa lainnya. Setiba di bandara, ujian pun datang kembali, koper berwarna merah yang saya pinjam itu patah rodanya, karena memang koper itu sudah tua, dan tak sanggup membawa banyak beban saat itu. Alhasil, sayapun membawa koper itu dengan agak diangkat.

Jemi Surya, Septian Pajri Pratama, Tri, dan saya yang paling ganteng
Jemi Surya, Septian Pajri Pratama, Tri, dan saya yang paling ganteng

Kali itu, merupakan pertama kalinya saya naik burung besi yang disebut pesawat. Rasanya seru dan takjub diiringi sedikit rasa takut ketika melihat ciptaan Allah dari ketinggian. Sayapun merasa diri saya kerdil sekali, dan ternyata buminya Allah itu sungguh luas.

Tiba di bandara Soekarno - Hatta Jakarta
Tiba di bandara Soekarno – Hatta Jakarta

Kurang lebih 50 menit perjalanan di pesawat tanpa tidur, saya dan teman-teman lainnya tiba di bandara Soekarno-Hatta. Kami pun menaiki mobil yang menjemput dari bandara untuk pergi ke lokasi pelatihan. Di sana, saya kembali menjadi anak kos-kosan yang jauh dari orang tua.

Ada di manakah saya?
Ada di manakah saya?

Singkat cerita, 2 Minggu masa pelatihan akan segera kami lewati dengan senang gembira, karena saat itu saya mendapatkan teman baru yang semakin memotivasi untuk terus semangat ingin segera menginjakkan kaki ke negeri tirai bambu. Tetapi sebelum masa pelatihan berakhir… Kembali, ujian kesungguhan menuntut ilmu yang Allah berikan seakan-akan meruntuhkan semangat saya.

Saat itu, kami 20 calon mahasiswa Tiongkok yang mendapatkan beasiswa mendengar kabar bahwa tak seluruh dari kami akan berangkat setelah masa pelatihan selesai. Sentak kamipun kaget dan khawatir, apakah nama saya berada di salah satu nama yang tak akan langsung berangkat tersebut.

Kami mendapatkan informasi bahwa hanya akan ada 11 siswa saja yang akan berangkat di bulan Oktober 2014, sisa 9 siswa lagi akan ditunda keberangkatannya dengan tak pasti tanggal berapa akan menyusul. Permasalahannya saat itu adalah tentang biaya beasiswa yang tertunda, hingga mengharuskan kami semua menerima keputusan apapun itu.

Keesokan harinya (04 Oktober 2014), masa kepulangan usai mengikuti Training bahasa Mandarin tiba… Seharusnya hari itu menjadi penentuan apakah saya menjadi salah satu yang akan berangkat di tahun 2014 ataukah ditunda keberangkatannya.

Insya Allah, ceritanya akan kita sambung di bagian ke 4 ya teman-teman.

Oh ya, sebelum bagian ke-3 ini diakhiri, sebenarnya orang tua saya kurang setuju putranya melanjutkan kuliah ke luar Sumatera Selatan, orang tua lebih setuju agar putranya berkuliah di perguruan tinggi di lingkungan Sumatera Selatan saja. Tetapi Alhamdulillah, negeri Tiongkok yang malah lebih jauh dari ibu pertiwi, malah saya mendapatkan izin dari orang tua. Hehehe.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT

Adam Suchi Hafizullah
Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan

Seorang pemuda yang berasal dari kota kecil Muara Enim sedang bergelut di bidang teknologi informasi untuk keluarga kecilnya.